CURHATAN PEMUDA KAMPUNG YANG SERING DI PANGGIL DENGAN SEBUTAN NAMA ANAK SINGKONG 🌿🍁🍂🍃

Pemuda yang kritis adalah pemuda yang masih menyayangi bangsanya, dan selalu berusaha menjunjung tinggi kebenaran di atas penindasan.
Pemuda yang kritis adalah pemuda yang punya harga diri, yang tak dapat bisa di beli dengan nominal angka yang berdiri di atas kertas yang di kenal dulunya sebagai alat tukar,
Dan kini berubah.

dulu di sebut sebagai alat tukar, dan kini menjadi alat kepuasan semata dalam dunia.

apalah daya orang orang yang tertidas.
Jikalau salah satu orang yang di percaya oleh orang banyak untuk di jadikan sebagai penyokong atau tempat berlindungnya di kemudian hari. Dan kini sekedar menjadi penonton terbaik di atas kesensaraan.

dirinya mulai berubah seperti manusia yang tidak manusiawi ataukah mereka memang bukan manusia?, Sya pun tidak tau hal itu kawan, tetapi bisa di lihat dari tanggung jawabnya yang semestinya di lakukan.

Kebijakan selalu berpihak kepada orang orang yang mempunyai kertas dan memiliki nominal angka yang besar.

Pada akhirnya Investor akan merdeka dan masyarakat selalu berjalan di atas penindasan, diskriminasi, dan kriminalisasi yang bertradisi.

Kriminalisasi terhadap Masyarakat adat selalu berlangsung dan tak pernah di tuntaskan. semata mata mereka menilai hak masyarakat adat terhadap wilayah adatnya adalah omong kosong.

Kini masyarakat adat malah di usir dari tanah ulayat mereka atau wilayah adat yang semestinya menjadi hak paling melekat dalam diri mreka tersebut.

Dan kini pemerintah menetapkan wilayah adat yang katanya sebagai taman nasional itu/hutan lindung, Faktanya Yang di mana nyawa burung lebih berharga di banding nyawa masyarakat adat yang telah di rampas haknya.

Orang orang yang di percya kini selalu mementingkan kepuasan sendri dan menyesensarakan orang banayak demi finansial dan kepuasan peribadi.
iyalah orang orang yang tak tau malu akan tanggung jawabnya.

Zaman semakin berubah drastis hukum bisa di beli.

Kebijakan selalu berpihak ke satu sisi dan hasilnya hukum selalu tajam kebawah tumpul ke atas.

Nominal Angka yang selalu berdiri di atas kertas, yang di sebut dulunya sebagai alat tukar kini menjadi petaka.
seiring waktu berjalan orang orang akan kehilangan identitasnya sebagai manusia yang di ciptakan mempunyai pemikiran yang sangat sempurna dan kemungkinan besar akan menjadi sejarah.

#Hapuskan kriminalisasi terhadap masyarakat pribumi( masyarakat adat)
#tagakan hukum setegak tegaknya jangan pilih kasih
#mengutamakan kesejahtraan masyarakat
#kembalikan hak hak masyarakat adat yang di rampas.
#Masyarakat adat adalah sebagai subjek hukum dalam negara dan mreka punya hak atas tanah adatnya
#tegakkan MK NO 35 TAHUN 2012 BAHWA HUTAN ADAT BUKAN LAGI HUTAN NEGARA

#SAHKAN RUU MASYARAKAT ADAT YANG DI ACUHKAN SELAMA INI

SALAM NUSANTARA
SALAM SEJAHTRA

AWAL MULA SUKU BUGIS MASUK KE NUSANTARA

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

#Perkembangan

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tetapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Suku Bugi merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.[2] Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Disamping itu orang-orang Bugis juga banyak ditemukan di Malaysia dan Singapura yang telah beranak pinak dan keturunannya telah menjadi bagian dari negara tersebut. Karena jiwa perantau dari masyarakat Bugis, maka orang-orang Bugis sangat banyak yang pergi merantau ke mancanegara.

#Masa kerajaan#

#Kerajaan Bone

Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade’ pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa’ Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa’ anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat.

#Kerajaan Makassar

Pada abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

#Kerajaan Soppeng

Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

#Kerajaan Wajo

Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal dia, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabbi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.

Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya bergelar Batara Wajo.
Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. Setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

#Konflik antar kerajaan

Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “Tellumpoccoe”.

#Penyebaran Islam

Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

#Kolonialisme Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa. Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian pada tahun 1905–1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tetapi hanya sekadar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

#Masa kemerdekaan

Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk provinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

GUA WATU BURI, BUKTI SUKU MORONENE AHLI DI LAUT MAUPUN DI DARAT

Gua ini terletak di pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Disebut Watu Buri karena di dalam gua ini terdapat tulisan,dan gambar pada dinding gua tersebut.

Dalam bahasa Moronene “Watu” berarti gua, sedangkan “Buri” berarti tulisan.

Di dalam gua tesebut terdapat gambar berupa sampan atau perahu yang di kemudikan oleh seseorang dengan berdiri. Selain dari itu ada juga gambar lain dalam gua ini yaitu binatang atau hewan buruan berupa rusa dan anoa.

Di dalam gua ini memiliki ruang atau bilik yang tertata rapi,dan terdapat pula meja yang tebuat dari batu. ada pula satu batu yang bersegi panjang yang di percaya oleh warga sebagai kuburan leluhur orang moronene dulu.

Untuk mencapai gua tersebut harus menaiki beberapa puluhan anak tangga, yang di kelilingi pepohonan yang amat tinggi dan lebat.

Jarak dari perkampungan menuju ke gua Watu Buri ini, menghabiskan waktu paling lama 3 jam untuk berjalan kaki atau sekitar 12 kilo meter dari perkampungan masyarakat.

KEADAAN OARANG YANG TERPINGGIRKAN

Seorang warga yang hidup di pinggiran sungai tepatnya di samping Taman Honda, Tebet Timur, Jakarta Selatan.

Kehidupan bapak ini yang kini namanya belum dikenal, mencari rejeki dengan keliling mengumpulkan sampah-sampah bekas yang kotor.

Di mana kah pemerintah DKI JAKARTA yang visi misinya mensejatrahkan masyarakatnya?

Entah dimana kalian yang yang mengatur negara ini, dan dimana hati nurani kalian yang tidak pernah melihat masyarakat kecil yang hidup di pinggiran.

Mereka berhak untuk hidup sejahtara sesuai dengan visi misi kalian di saat kalian mencalonkan diri sebagai pergerakan baru untuk negara ini,Atau cuma melontarkan kata kata dan janji yang pada akhirnya melukai masyarakat, dan Jangan menjadikan masyarakat sebagai aset bisnis yang bejat.

SEJARAH PERKAMPUNGAN ORANG MORONENE DI TOBU HUKAEA-LAEA KABUPATEN BOMBANA

Tobu/perkampungan Hukaea Laea merupakan perkampungan tua yang terletak di tengah areal Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) . secara administratif, dulunya masuk dalam wilayah kecamatan rumbia kabupaten buton akan tetapi, Karena adanya keinginan masyarakat dari etnik moronene sendiri untuk dijadikan Kabupaten baru. maka pada tahun 2003 wilyah ini menjadi wilayah administratif Kabupaten Bombana.


Tobu Hukaea Laea mempunyai luas wilayah adat sekitar 26.295,32 Ha (data hasil dari pemetaan parsipatif masyarakat adat hukaea laea)
Secara etimologis Laea terdiri dari dua suku kata yakni la dan ea. La berarti sungai dan ea berarti besar.jadi laea berarti sungai yang besar. Orang yang pertama mendirikan perkampungan ini sekitar ±200 tahun lalu adalah Tabihi, di masa puawa (masa sebelum belanda datang ke sulawesi tenggara). Kemudian beranak pinak hingga sekarang telah mencapai generasi ke-4 (empat). Tetapi walaupun demikian, istilah kepala kampung baru dikenal pertama kali di laea sekitar
tahun 1990-an dan sebagai kepala kampung yang pertama adalah Duri. Sedangkan hukaea terdiri dari dua suku kata yaitu huka Dan Ea. Huka berarti pohon melinjau dan Ea berarti besar. Jadi Hukaea berarti pohon melinjau yang besar. Baik laea maupun hukaea namanya diambil berdasarkan kondisi alam yang ada di perkampungan tersebut. Perkampungan ini di bangun pertama kali oleh keluarga LABABA, yang datang dari kampung wukulano atas izin kepala kampung laea saat itu yang di jabat oleh Ntamo Lomo sekitar tahun 1943.


Hukaea-laea merupakan daerah yang terisolir sehingga mata pencaharian utama masyarakatnya bertani dan berkebun dengan menerapakan sistem pertanian subsisten berisfat transisi dengan sumber air tadah hujan dengan tanaman utama adalah tanaman pangan seperti padi gogo, jagung, pisang dan umbi-umbian serta menanam beberapa jenis sayuran organik seperti bayam, daun ubi, kacang panjang, kangkung.
Dahulu Hukaea dan Laea terdiri dua kampung, namun sejak ditetapkan wilayah adat hukaea-laea sebagai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai secara sepihak oleh pemerintah,maka masyarakat melakukan perjuangan mempertahankan wilayah ini dengan merangkul dua kampung untuk di jadikan satu kampung agar menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara tobu Hukaea maupun tobu Laea.
Bagi masyarakat moronene, tobu Hukaea-Laea dan daerah sekitarnya merupakan waworaha/ kawasan yang pernah dihuni leluhur atau nenek moyangnya. Dan ditinggalkan karena alasan tertentu, misalnya karena adanya kematian, atau karena suatu bencana yang menimpah hidup mereka. Waworaha adalah tanah leluhur yang suatu saat akan di datangi lagi dan dijadikan lokasi perkampungan dan bertani.
Mereka sekarang memasuki kawasan Waworaha di tobu hukaea.-laea dan sekitarnya merupakan keturunan langsung dari generasi suku moronene tahun 1920-an yang membangun perkampuangan di laea dan sekitarnya, dan terpaksa meninggalkan perkampungan tersebut tahun 1950-an karena penyerbuan dan gangguan keamanan dari gerombolan pengacau yang bisa disebut dengan Gerombolan badik/Gerombolan DI/TII.
selama bermukim di tobu Hukaea-laea masyarakat moronene berladang dan berkebun di daerah hulu sungai laea. Jenis jenis tanaman ladang mereka adalah padi, jagung serta sayuran. Sedangakan tanaman kebun mereka adalah mangga, nangka, jati, pinang dan kelapa. Di samping perkebunan masyarakat Moronene juga membuka perladangan serta membangun permukiman di bawah sungai laea sejak tahun 1937 yang kemudian disebut dengan Pada laea yang berarti di bawah sungai laea.
Dengan terbentuk dan berkembangnya sejumlah perkampungan (tobu) di sepanjang sungai laea, maka pemerintah Distrik Rumbia yang di pimpin oleh Munara ( ayah Ipimpie kepala Distrik Rumbia terakhir). Hukaea sebagai perwakilan Distrik mencangkup 11 tobu yang terletak di TNRAW sedangkan 4 tobu lainnya berda di luar TNRAW. Ketujuh tobu yang dimaksud adalah Laea, Hukaea, Padalaea, Wukulanu, Wawompoo, Wambakobu, dan Lampopala. Sedangkan keempat tobu lainya adalag Rarongkeu (desa lameroro sekarang), Pu’ungkowu (dusun II Wububangka sekarang), serta Tembe (Desa Hukaea baru sekarang)

ASAL ASUL PENDUDUK MORONENE

Komunitas masyarakat yang mendiami kerajaan Keuwia-Rumbia adalah etnik moronene. Hal ini tidak mengheran kan karena kerajaan ini merupakan pecahan dari kerajaan moronene yang secara struktural dan kultural yang tidak dapat di pisahkan. Namun demikian, dalam perkembangannya wilayah kerajaan moronene. Keuwia-Rumbia banyak di datangi oleh migrasi dari etnik lainnya seperti Bugis, Makassar, Buton, Muna, dan Tolaki. Yang secara sosial dan kultural dapat hidup berdampingan rukun dan damai bersama suku moronene sebagai penduduk asli di daerah in.

Ciri ciri fisik etnik moronene sebagai mana ciri khas orang moronene. Bahwa secara umum etnik asli moronene memiliki ciri ciri fisik sebagai Berikut: Tinggi badan rata rata 160 cm, wanrna kulit kuning langsat, mata sipit, rambut lurus, tengkorak mesosepal (sedang). Asal usul etnis tersebut di perkirakan sebagai salah satu gelombang migrasi dari daratan asia tenggara yang masuk ke Sulawesi Tenggara melalui Sulawesi tengah. keberadaan mereka sampai bermukim di wilayah kerajaan Keuwia-Rumbia diperkirakan dengan menggunakan perahu. Mereka hidup dan menetap di daerah ini secara turun temurun dengan membuka perladangan dan berbagai hasil laut.

Suku moronene berasal dari hindia belakang, Moronene terbagi Dua arti yaitu: “moro” dalam bahasa setempat SERUPA, Sedangkan kata “nene” artinya POHON RESAM. Mereka masuk ke Sulawesi Tenggara melalui Sulawesi Tengah bersama sama dengan etnik mori dan bungku. Di Sulawesi Tenggara suku Moronene menyebar khususnya ke bagian Selatan melalui darat, di mana pada waktu itu, daratan bagian selatan di wilayah itu, di perkirakan bahwa dari berbagai nama daerah di kabupaten Kendari dan kolaka saat ini adalah merupakan bekas permukiman suku moronene dahulu seperti: pohara,yang dalam bahasa Moronene baerarti batu asahan, ranoea dalam bahasa moronene berarti rawa besar atau luas, dan Pomala dalam bahasa Moronene berarti tempat menebang kayu atau mengerjakan perahu.
Mayoritas masyarakat memilih hidup dengan mata pencaharian sebagai petani dan nelayan. hal ini di pertegas dalam salah satu sumber tertulis bahwa: Aktivitas utama masyarakat di kerajaan Keuwia-Rumbia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari hari pada awal masuknya di wilayah ini adalah berladang digunung-gunung dengan pola berkelompok. Di samping itu, sebagian lainnya memilih memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil laut seperti ikan, kerang dan siput. Selain bertani dan nelayan, mereka juga gemar berburu binatang liar di hutan dan di padang luas. Dalam proses berburu tersebut, mereka memiliki kebiasaan dengan membawa bekal seperti nasi dan lauknya (Niwuwua) dalam bahasa moronene berarti nasi yang di bungkus dengan daun. Hal ini di lakukan karena dalam berburu biasanya memakan waktu antara satu sampai dua hari. Jenis daun yang lazim di gunakan untuk membungkus nasi di sebut daun moronene(sejenis daun pohon resam) yang banyak terdapat dipinggir-pinggir sungai wilayah perladangan masyarakat.

TARIAN TRADISIONAL SUKU MORONENE

TARIAN MOLULO atau Lulo (dari suku moronene), merupakan salah satu jenis kesenian tari tradisional dari daerah sulawesi tenggara, Indonesia. Di Bombana (Sulawesi Tenggara – Indonesia) terdapat beberapa suku. suku moronene sebagai salah satu suku yang berada di daerah ini memiliki beberapa tarian tradisional , salah satu tarian tradisional yang masih sering dilaksanakan hingga saat ini adalah tarian persahabatan yang disebut tarian Lulo.

Pada zaman dulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti : pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul yaitu gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran. Gong yang digunakan biasanya terdiri dari 2 macam yang berbeda ukuran dan jenis suara. Saat sekarang utamanaya di daerah perkotaan , gong sebagai alat musik pengiring tarian lulo telah digantikan dengan alat musik modern yaitu “kyboard/elekton”.

Adapun filosofi tarian “lulo” adalah persahabatan, yang biasa ditujukan kepada muda-mudi suku moronene sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran. Peserta tarian ini tidak dibatasi oleh usia maupun golongan, siapa saja boleh turut serta dalam tarian lulo, kaya miskin, tua, muda boleh bahkan jika anda bukan suku moronene atau dari negara lain bisa bergabung dalam tarian ini, yang penting adalah bisa mengikuti gerakan tarian ini. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan saat bergandengan tangan, untuk pria posisi telapak tangan di bawah menopang tangan wanita. Posisi tangan ini merupakan simbolisasi dari kedudukan, peran, etika pria dan wanita dalam kehidupan.

Yang terpenting dari semua itu adalah arti dari tarian Lulo sendiri, yang mencerminkan bahwa masyarakat suku moronene adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Seperti filosofi masyarakat moronene yang diungkapkan dalam bentuk pepatah samaturu, medulu ronga mepokoaso, yang berarti masyarakat moronene dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling tolong–menolong dan bantu-membantu.

TARIAN TRADISIONAL SUKU MORONENE

TARIAN LUMENSE adalah tarian yang berasal dari tokotu’a, KABUPATEN BOMBANA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA. Kata lumense sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yakni lume yang berarti terbang dan mense yang berarti tinggi. Jadi, lumense bisa diartikan terbang tinggi. Tari lumense sendiri berasal dari kecamatan KABAEANA. Suku Moronene merupakan penduduk asli dari wilayah ini. Nenek moyang suku ini adalah bangsa melayu tua yang datang dari hindia belakang pada zaman pra sejarah. Secara geografis, kecamatan kabaena merupakan pulau terbesar setelah buton dan Muna di Sulawesi tenggara. Menurut sejarah, dahulu kecamatan kabaena berada di bawah kekuasaan kerajaan Buton sehingga hubungan kekerabatan antara Kabaena dan buton pun sangat erat. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan kebudayaan di wilayah Kabaena termasuk tari Lumense.

Tarian tradisional suki moronene

TARIAN LUMENSE adalah tarian yang berasal dari Tokotu’a, KABUPATEN BOMBANA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA. Kata lumense sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yakni lume yang berarti terbang dan mense yang berarti tinggi. Jadi, lumense bisa diartikan terbang tinggi. Tari lumense sendiri berasal dari kecamatan KABAEANA. Suku Moronene merupakan penduduk asli dari wilayah ini. Nenek moyang suku ini adalah bangsa melayu tua yang datang dari hindia belakang pada zaman pra sejarah. Secara geografis, kecamatan kabaena merupakan pulau terbesar setelah buton dan Muna di Sulawesi tenggara. Menurut sejarah, dahulu kecamatan kabaena berada di bawah kekuasaan kerajaan Buton sehingga hubungan kekerabatan antara Kabaena dan buton pun sangat erat. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan kebudayaan di wilayah Kabaena termasuk tari Lumense.